Tuhfatul Athfal, Syair Tajwid Praktis Legendaris

Tuhfatul Athfal merupakan kitab yang banyak dikaji di berbagai madrasah dan pesantren. Kitab yang membahas tentang ini disajikan dalam bentuk syair atau nadzam yang indah. Meski relatif tipis, namun kitab ini cukup memudahkan bagi sesiapa yang ingin memahami tajwid (Ilmu Tata cara baca Al-Qur’an).

Kitab ini pertama kami kaji di Madrasah Islamiyyah Al-Munawwariyyah (MIM) sekitar lima belas tahun silam. Madrasah Diniyyah ini berada dalam naungan Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah, Sudimoro, Bululawang, Kabupaten Malang di bawah asuhan almaghfurlahu KH. Maftuh Sa’id. Saat itu kami diminta untuk menghafal nadzham ini sebagai pra syarat ikut ujian semester di madrasah.

Teringat sebelum kegiatan belajar berlangsung di sore hari, kami membaca bait ini bersama-sama. Terkadang membuat semakin semangat kami bacakan sambil klote’an (memukul-mukul sesuatu). Kitab yang kita pelajari saat itu adalah Nail al-Anfal fi Tarjamati Tuhfat al-Athfal karya KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrahman al-Maraqi (Mranggen, Demak). Kitab ini disajikan dengan menyertakan Nadzam yang dibawahnya diberi keterangan dalam bahasa jawa dengan aksara arab atau yang dikenal dengan pegon.

Profil Penulis

Tuhfatul Athfal yang berarti “Senandung Anak-Anak” adalah karya Syaikh Sulaiman bin Husain bin Muhammad bin Syalabi as-Syafi’i Al-Jamzuriy. Dalam Syarah Fathul Aqfal fi Syarhi Tuhfatul Athfal, al-Jamzuri menyebutkan maksud bahwa Al-Athfal disini adalah anak-anak kecil seperti dirinya pada ilmu ini yang belajar pada seorang yang sangat dalam dan luas keilmuannya, yaitu Tuanku dan Guruku Nuruddin Ali bin Umar al-Mihi.

Syaikh al-Jamzuri adalah seorang ulama besar dari Negeri Kinanah, Mesir yang lahir pada bulan Rabi’ul Awwal 1163 H. Hal ini sebagaimana tertuang dalam bait pertama syair yang ditulis pada sekitar tahun 1198 H ini:

يَقُوْلُ رَاجِيْ رَحْمَةِ الْغَفُوْرِ * دَوْمًا سُلَيْمَانُ هُوَ الجَمْزُورِي

“Berkatalah seorang yang selalu mendambakan rahmat dari Dzat Maha Pengampun, beliaulah Sulaiman al-Jamzuri”

Disebutkan dalam kitab Irtiqa’ut Tilal lil Tiqat Durari Syarah Tuhfatul Athfal karya Syaikh Abu Abdi al-Tawab Abdul Majid Rasysy, Syaikh al-Jamzuri masyhur dengan sebutan al-Afandi (sebuah gelar kebangsawanan di Turki). Syaikh al-Jamzuri nama yang tersebat di belakang namanya dinisbatkan pada di provinsi al-Minufiyah, Mesir yang hanya berjarak sekitar lima mil di selatan Thanta, Mesir yang saat ini berdiri kokoh Kompleks Kulliyatul Qur’an al-Karim (Fakultas Ilmu Al-Qur’an) Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Jejak Intelektual

Syaikh al-Jamzuri adalah ulama yang hidup abad kedua belas hijriyah. Beliau mengikuti madzhab Imam Syafii’, yang wafat Mesir. Beliau belajar kepada banyak ulama di Thanta seperti Syaikh Ahmadi al-Hirqah. al-Jamzuri juga dikabarkan berbai’at Thariqah Syadziliyah yang didirikan oleh Syaikh Abu Hasan Asy-Syadzili (1196 – 1258).

Guru utama Syaikh al-Jamzuri dalam bidang ilmu qiro’at adalah Syaikh Nuruddin Al Mihiy. Hal ini diungkapkan dalam bait keempat nadzam Tuhfatul Athfal-nya.

سَمَّيْتُهُ بِتُحْفَةِ الأَطْفَالِ * عَنْ شَيْخِنَا المَيْهِي ذِيْ الْكَمَالِ

“Saya namai ia (kitab ini) dengan Tuhfatul Athfal” dari guru kami al-Mihi, yang memiliki kesempurnaan”

Syaikh Nuruddin Ali bin Umar bin Ahmad bin Umar bin Naji bin Funais al-‘Auni al-Mihi al-Manufi al-Misri adalah ulama besar bermadzhab Syafi’i. Kepadanya, Syaikh al-Jamzuri belajar ilmu tajwid dalam Qiro’at Asyrah (Bacaan Imam Sepuluh) dari Thariq (Jalur) as-Syatibiyyah (karya Imam Abul al-Qosim bin Firruh bin Kholaf bin Ahmad ar-Rainiy asy-Syatibi al-Andalusi ad-Dharir [538 – 590 H]) dan ad-Durroh (karya Imam Abu al-Khair Muhmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf al-Jazari [751-833 H]).

Disarikan dari Risalah ad-Dur Tsamin fi Sanadi Kyai Amin, karya Ahmad Mushin al-Balunji al-Karawanji (Karawang), Syaikh Ali al-Mihi dilahirkan pada tahun 1139 H di Mih, sebuah daerah yang sama dengan Syaikh al-Jamzuri yakni di Provinsi al-Manufiyah, Mesir. Kota Mih saat ini bertetangga dengan Kota Sheben el-Kom di provinsi yang sama.

Di kota tersebut Syaikh Ali al-Mihi menyelesaikan pendidikannya di Universitas Al-Azhar, kemudian bepergian ke kota Thanta dan menetap disana. Sejak memutuskan untuk menetap di kota Thanta beliau menyibukkan diri dengan mengajarkan ilmu syar’i dan qira’at. Beliau berkhidmat pada ilmu sehingga Allah SWT mewafatkannya pada 14 Rabi’ul Awwal 1204 H.

Nama Syaikh Ali al-Mihi banyak disebut dalam beberapa Sanad Qiro’at Ulama Nusantara seperti dalam naskah Sanad KH. Arwani Amin dan KH. Yusuf Masyhar. Salah satu guru beliau yang masyhur adalah Syaikh Ismail Basytin al-Mahalli al-Misri asy-Syafi’i. Kawan seperguruannya adalah Syaikh Abdul Karim bin Umar al-Badri aad-Dimyati, hal ini kami jumpai dalam kitab Jawahirul Hisan fi Tarajim al-Fudhola’ al-A’yan min Asatidzat wa Khallan karya Syaikh Zakaria Bila (1329 – 1413 H), seorang ulama besar dari Bila, Labuhan Batu, Sumatera Utara yang bermukim dan wafat di Makkah al-Mukarramah.

Nama terakhir banyak diklaim sebagai guru dari KH. Munawwir, Pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Jogjakarta. Dalam beberapa salinan sanad murid-muridnya seperti KH. Abdul Qodir Munawwir (putranya), KH. Mufid Mas’ud, KH. Nawawi Abdul Aziz (keduanya adalah menantunya), KH. Muntaha Asy’ari dan beberapa ulama lainnya. KH. Munawwar, Pendiri Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Sidayu, Gresik juga disebutkan berguru kepada Syaikh Abdul Karim ad-Dimyathi.

Namun melihat dari kurun antara KH. Munawwir dengan Syaikh Abdul Karim bin Umar al-Badri ad-Dimyati selisihnya sekitar satu abad. Hal ini berdasar asumsi bahwa Syaikh Abdul Karim ad-Dimyathi sezaman dengan Syaikh Ali al-Mihi (1139-1204 H), sedangkan KH. Munawwir dalam Buku Para Penjaga Al-Qur’an terbitan Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama disebutkan bahwa beliau baru lahir pada tahun 1870 Masehi atau sekitar tahun 1287 H. (Terkait ikhtilaf sanad KH. Munawwir akan kami urai di lain kesempatan).

Karya-Karya

Sepanjang hidupnya, Syaikh al-Jamzuri banyak menulis kitab-kitab, khususnya tentang ilmu tajwid dan Qiro’at. Dalam Kitab Jam’ul Muallifin karya Syekh Umar Ridha Kahalah disebutkan bahwa kitab yang pernah dikarang oleh Syaikh al-Jamzuri diantaranya;

Tuhfat al-Athfal (wal Ghilman) fi Tajwid al-Qur’an
Fath al-Aqfal bi Syarhi Tuhfatul Athfal
Nadham Kanzul Ma’ani bi Tahriri Hirz al-Amaniy
al-Fath ar-Rahmani bi Syarh Kanz al-Ma’ani fi Qiraa’at as-Sab’i
Jami’ al-Musarrati fi Syawahid asy-Syatibiyyah wad Durroh
Mandzumah fi Riwayat al-Imam Warsy
7. ad-Dur al-Mandzum fi ‘Udzri al-Ma’mum

8. at-Tiraz al-Marqum bi Syarhi ad-Dur al-Mandzum

Rahasia Dibalik Nadzam

Tentang Kitab Tuhfatul Athfal yang memuat 61 nadzham tajwid ini, al-Jamzuri banyak menyakin rumus mudah menghafalkan kaidah tajwid, seperti ketika menyebutkan huruf-huruf dalam ikhfa’ yang berjumlah 15, maka nadzhamnya adalah

صِفْ ذَا ثَنَا كَمْ جَادَ شخصٌ قَدْ سَمَا * دُمْ طيبًا زِدْ فِي تُقًى ضَعْ ظَالمًا

(ص ذ ث ك ج ش ق س د ط ز ف ت ض ظ)

Tak sekedar menyebutkan huruf ikhfa’, namun syair diatas juga memiliki makna yang indah

صِفْ ذَا ثَنَا

“Ikutilah jejak langkah orang-orang terpuji”

كَمْ جَادَ شخصٌ قَدْ سَمَا

“Betapa banyak mereka yang diangkat derajatnya”

دُمْ طَيِّبًا

“Seringlah berbuat baik. Lakukan yang terbaik”

زِدْ فِي تُقًى

“Tingkatkan terus kualitas takwa”

ضٓعْ ظٓالِمًا

“Tundukkan kedzaliman”

Selanjutnya dalam Bab Hukum Lam dan Alif Lam dan pada Lam Fi’il, Syaikh al-Jamzuri menyebutkan Huruf idzhar Qomariyah atau dikenal dengan Alif Lam Qomariyah dalam bait kedua puluh lima. Huruf yang berjumlah diringkas dengan rumus:

ﻗَﺒْﻞَ ﺍﺭْﺑـَﻊٍ ﻣَﻊْ ﻋَﺸْﺮَﺓٍ ﺧُـﺬْ ﻋِﻠْﻤـَﻪُ * ﻣِﻦْ ﺍَﺑٔـﻎِ ﺣَﺠَّـﻚَ ﻭَﺧَـﻒْ ﻋَﻘِﻴْـﻤَـﻪُ

“Keempat belas huruf yang dibaca jelas, maka ambillah ilmunya dari kalimat berikut:

ﺍب غ ح ج ك ﻭخ ف ع ق ي م ھ

Makna dari pesan dari penggalan bait akhir diatas adalah sempurnakanlah ibadah hajimu karena takutnya nanti tidak diterima

Sementara dalam bait kedua puluh tujuh, huruf-huruf idgham syamsiyah ata Alim Lam Syamsah dirangkum dalam rumusan

ﻃِﺐْ ﺛُﻢَّ ﺻِﻞْ ﺭَﺣْﻤًﺎ ﺗَﻔـُﺰْ ﺿِﻒْ ﺫَﺍ ﻧِﻌَﻢْ * ﺩَﻉْ ﺳُـﻮْﺀَ ﻇَﻦِّ ﺯُﺭْ ﺷَﺮِﻳْـﻔًﺎ ﻟِﻠْﻜـَﺮَﻡِ

(ط ث ص ر ت ض ذ ن د س ظ ز ش ل)

Dalam Kitab Aqrab al-Aqwal Syarah Fath al-Aqwal karya Syaikh Ali Muhammad ad-Dhabagh disebutkan bahwa bait dalam nadzam diatas juga memiliki makna yang luar biasa, yaitu

ﻃِﺐْ ﺛُﻢَّ ﺻِﻞْ ﺭَﺣْﻤًﺎ

“Biasakanlah berbuat kebaikan dan perbanyaklah bersilaturahim

ﺗَﻔـُﺰْ ﺿِﻒْ ﺫَﺍ ﻧِﻌَﻢْ

“Sebab betapa banyak orang meraih kenikmatan yang berlipat ganda darinya”

ﺩَﻉْ ﺳُـﻮْﺀَ ﻇَﻦِّ

“Jauhilah prasangka yang buruk khususnya kepada sesama muslim”

ﺯُﺭْ ﺷَﺮِﻳْـﻔًﺎ ﻟِﻠْﻜـَﺮَﻡِ

“Berkunjunglah ke tempat orang yang shalih agar engkau meraih kemuliaan”

Kitab Tuhfatul Athfal ini diselesaikan oleh al-Jamzuri pada tahun 1198 Hijriyah. Hal ini sebagai diuraikan olehnya dalam nadzam kelima puluh tiga

ﺃَﺑْـﻴَﺎﺗـُﻪُ ﻧـَﺪُّ ﺑـَﺪَﺍ ﻟِـﺬِﻯْ ﺍﻟﻨُّـﻬَﻰ * ﺗَﺎﺭِﻳْﺨُﻪُ ﺑُﺸْـﺮَﻯ ﻟِﻤـَﻦْ ﻳُﺘْﻘِﻨُﻬَﺎ

“Bait-baitnya bagaikan (pohon yang berbau harum) meraka yang berakal. Waktu penyelesaian (kitab ini) adalah kabar gembira bagi siapa saja yang menguasainya”

Makna dari kata نَدٌّ بَدَا selain pohon yang berbau harum yang tampak. Namun al-Jamzuri menjadikan kalimat tersebut sebagai rumus untuk mengitung abajadun yang banyak digunakan orang-orang terdahulu yang diistilahkan dengan Hisabul Jumal. Berikut perinciannya

ن (٥٠ د (٤) ب (٢) د (٤) ا (١)

maka jumlah dari dua kata tersebut adalah 61 yang merupakan jumlah Nadzam Tuhfatul Athfal ini.

Penggalan bait berikutnya ﺑُﺸْـﺮَﻯ ﻟِﻤـَﻦْ ﻳُﺘْﻘِﻨُﻬَﺎ yang bermakna kabar gembira bagi orang yang menguasainya”, itu juga merupakan rumus dari tahun selesainya penulisan kitab ini.

Berikut rinciannya

بشرى = ب (٢) ش (٣٠٠) ر (٢٠٠) ى (١٠)

لمن = ل (٣٠) م (٤٠) ن (٥٠)

يتقنها = ي (١٠) ت (٤٠٠) ق (١٠٠)ن (٥٠) ھ (٥) ا (١)

Jika ditotal jumlah dari rumus dari 3 kata diatas, yakni 512 + 120 + 566 = 1198. Dan ternyata di tahun 1198 dari tahun hijriyahnya Rasulullah SAW inilah kitab ini selesai ditulis.

Syarah Nadzam

Kitab Tuhfatul Athfal ini juga telah banyak disyarahi oleh murid-murid al-Jamzuri dan banyak ulama lainnya, diantaranya:

Fathul Aqfal bi Syarhi Tuhfatul Athfal karya Syaikh Sulaiman Jamzuri
Minhatu dzi al-Jalal fi Syarh Tuhfatul Athfal karya Ali bin Muhammad Husain bin Ibrahim al-Misri (w. 1380)
Bughyatu Kalam Syarah Tuhfatul Athfal karya Syaikh Usamah Abdul Wahab
Fathul Mulk al-Muta’al bi Syarh karya Syaikh Muhammad Ali Al-Ahmadi Al-Misri
Fathul Muta’al Syarh Tuhfatul al-Athfal fi Ilmi at-Tajwid karya Syaikh Khalid Aziz Ismail
Irtiqa at-Tilal lil Tiqat Durari Syarah Tuhfatul Athfal karya Syaikh Abu Abdi al-Tawab Abdul Majid Rasysy
Ijazah dan Sanad Nadzam

Tidak ada keterangan secara pasti kapan kitab ini masuk ke Indonesia. Dugaan kami adalah lewat peran ulama-ulama kita yang pernah di Hijaz dan Mesir yang terhimpun dalam komunitas Jawi al-Makki. Hal ini diperkuat dengan jalur sanad Qiro’at Nusantara yang banyak merujuk pada ulama-ulama Mesir yang mengajar di Masjidil Haram yang sebagain sanadnya bersambung sampai kepada guru dari Syaikh Al-Jamzuri yakni Syaikh Ali al-Mihi.

Namun, beberapa hari silam kami mendapatkan langsung Ijazah dan Sanad Nadzam Tuhfatul Athfal ini. Anugerah ini kami dapatkan dari guru kami Syaikh Mahmud Abdul Aziz, Guru Tugas Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Selama di Indonesia beliau ditugaskan mengajar di Pondok Pesantren Bayt Al-Qur’an, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten dan mengisi kajian di berbagai pesantren dan majelis ta’lim.

Syaikh Mahmud yang meraih gelar Magister dari Kuliiyatul Qur’an Universitas Al-Azhar Kairo ini mendapatkan ijazah dan sanad dari gurunya sampai kepada muallifnya, dan berikut jalurnya :

Syaikh Abdul Fattah bin Madzkur bin Muhammad bin Bayumi dari Syaikh Muhammad Ali ad-Dabagh dari Syaikh Abdur Rahman al-Khatib asy-Syaa’ar dari Syaikh Muhammad bin Ahmad Mutawalli dari Syaikh Muhammad Sabiq dari Syaikh Khalil al-Muthaibisi dari Syaikh Ali Al-Abyari dari Syaikh Ali Al-Hulwu as-Samnudi dari Syaikh Ahmad Abu Salmunah dari Syaikh Sulaiman al-Baibani dari Syaikh Sulaiman al-Jamzuri*

Ijazah dan Sanad ini adalah salah satu tradisi turun temurun dari para leluhur dan guru-guru kita. Transmisi sanad ini yang menyebabkan sampai detik ini kita masih dapat menikmati karya ulama yang lebih dari dua abad telah berpulang ke Rahmatullah. Karena itulah sanad keilmuan adalah bagian dari agama, tanpa sanad orang akan berkata semaunya.

Hal ini sebagaimana telah disampaikan oleh seorang tabi’in terkemuka, Abdullah bin Mubarok:

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad adalah bagian dari agama, Jika tiada sanad maka siapapun dapat berkata apa saja”

Wallahu A’lam. []

Bogor, 16 Juli 2020

*Enam nama terakhir dalam sanad diatas sebelum Syaikh al-Jamzuri kami dapatkan dari salinan ijazah Tuhfatul Athfa milik Ustadz Abu Ya’la Kurniani Ujang Tardi, karena nama-nama tersebut tidak disebutkan di ijazah yang kami dapatkan dari Syaikh Mahmud.

SUMBER

Leave a reply