Mendidik Penghafal Al-Qur’an di Usia Dini

Oleh: Muhammad Abid Muaffan

Ibu Hebat

Anak Cerdas

Hafal Qur’an

Amin. Amin.

Allahu Akbar

Begitulah Jargon pembangkit semangat ibu-ibu TK Ar-Roudhoh dalam diskusi bareng seputar motivasi, tips dan trik dalam membina anak juara dan menghafal Al-Qur’an. Jargon penggugah spirit untuk bersama menjadi pengemban kalam Illahi Rabbi. Jargon untuk menumbuhkan generasi cemerlang idaman muslim rabbani masa kini.

Saat ini menghafal Al-Qur’an telah menjadi trend baik di setiap benak para orang tua agar buah hatinya ikut menjadi bagian dari keluarga Illahi. Semangat ini harus ditangkap sebagai peluang dakwah besar karena mendorong sebuah keluarga untuk lebih mencintai dan selalu dekat dengan Al-Qur’an. Spirit itu yang kami dapati saat bergabung bersama Forum Orang Tua TK dan Madrasah Diniyah Ar-Roudhoh, Kelurahan Argasurya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon pagi ini (23/8).

Dalam kesempatan tersebut kami sedikit mengupas tentang motivasi para hafidz cilik seperti Roja Bisma Rahmatullah, Zahra Fuaida dan anak penghafal Al-Qur’an lainnya. Beragam tips dan trik kami tawarkan berdasar pengalaman saat berinteraksi, pengalaman pribadi dan beragam literatur. Sebenarnya untuk menyampaikan materi ini, kami belum berada dalam kapasitasnya karena selain kapasitas ilmu dan kurang pengalaman lapangan. (Maklum masih jomblo tulen tapi bukan permanen lho ya!)

Namun diskusi begitu menarik karena membuka materi dengan memaparkan para hafidz Indonesia yang tak kalah dengan penghafal Al-Qur’an dari negeri Arab sebagai penutur asli. Bahkan dalam berbagai Musabaqah Tilawatil Qur’an Musabaqah Hifdzil Qur’an sudah banyak gelar juara kita rengkuh, dari Muammar ZA (Zainul Asyiqin), Deden M. Makharayuddin, KH. Mun’im Syadzili sampai yang belum lama Rifdah, gadis asal Sumedang yang meraih runner-up dalam MHQ di Yordania.

Tak cukup dalam sisi kecepatan menghafal kita mengenal sosok Prof. Dr. Habib Said Aqil Husein al-Munawwar yang menurut pengakuannya sendiri hafal Al-Qur’an hanya 30 hari di Roudhoh, Madinah. Atau ustadz muda, Kang Deden M. Makhariyuddin yang mampu mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an hanya dalam 52 hari saja dan beberapa kitab salaf lainnya. Dan masih contoh para penghafal Al-Qur’an kilat nan mutqin yang belum banyak temui.

Dari sisi usia telah banyak para generasi bangsa Indonesia yang telah mampu menggengam 30 Juz di masa belia. Kita mengenal Roja Bisma Rahmatullah, La Ode Musa, serta penghafal Al-Qur’an cilik yang banyak kita dapati dalam tayangan Hafidz Indonesia RCTI saat bulan Ramadhan.

Sebenarnya banyak pula hafidz belia yang tidak terekspos media seperti di masa lampau terdapat sosok yang begitu menginspirasi dalam menghafal Al-Qur’an yang khatam di usia 9 tahun di tangan abahnya sendiri, almaghfurlahu KH. Said Mu’in yang terkenal dengan julukan Asadul Qur’an (Singanya Al-Qur’an). Julukan yang disematkan oleh almaghfurlahu KH. Abdul Hamid Pasuruan ini karena betapa ketegasannya sosok Kyai Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an di Dusun Ngaren Desa Sungonlegowo Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik ini dalam menggemban tanggungjawab besar dunia akhirat dalam mengkader para huffadz. Berkat ketekunan, doa serta tawakkal seluruh putra putrinya (12 Orang) hafal Al-Qur’an, begitu juga santri-santrinya. Subhanallah sungguh sebuah prestasi mengagumkan yang sangat sulit dicari persamaannya di masa ini.

Menghafal Al-Qur’an Masa Dini adalah langkah yang sangat bagus karena memanfaatkan Golden Age (Masa Keemasan) seorang anak untuk ikut menjaga Al-Qur’an yang terjaga lewat lisan-lisan penghafalnya ini. Masa Kecil dianggap masa terbaik karena mereka belum banyak terkontaminasi dosa-dosa maupun pengaruh-pengaruh negatif. Masa Belia merupakan waktu yang sayang untuk dilewatkan karena pada masa ini para ulama’-ulama’ seperti Imam Syafii, Imam Thabari, Imam Al-Ghazali dan generasi salaf lainnya, justru diminta oleh guru maupun orang tuanya untuk menghafalkan Al-Qur’an.

Mengajarkan hafalan Al-Qur’an di masa dini memang terkesan merepotkan dan menyusahkan. Jangankan menghafal, membaca saja masih sulit bagi mereka. Belum lagi masa kecil yang sebenarnya bagi anak lebih banyak untuk bermain. Faktor orang tua yang belum hafal bahkan kesulitan membaca Al-Qur’an juga seakan menambah problematika.

Namun permasalahan itu terjawab sudah, saat kami bersilaturrahmi dengan Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA. Seorang pakar Qiroah Sab’ah (Bacaan 7 Imam Qiro’at), Mantan Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, Sekretaris Lajnah Pentashih Al-Qur’an Kementrian Agama di Pondok Pesantren Darul Qur’an Arjowinangun, Cirebon yang diasuhnya beliau mengatakan bahwa metode terbaik dalam mengajarkan hafalan Al-Qur’an adalah dengan Talaqqi.

Dikutip dalam website pusat-dakwah-alqur’an.com, Metode Talaqqi adalah suatu cara belajar dan mengajar Al-Qur’an dari Rasulullah SAW kepada para sahabat beliau, dan kemudian oleh mereka diteruskan ke generasi selanjutnya hingga kini. Metode ini terbukti paling lengkap dalam mengajarkan bacaan Al-Qur’an yang benar, dan paling mudah diterima oleh semua kalangan. Metode ini menjadi bukti historis keaslian Al-Qur’an yang bersumber dari Allah SwT.

Talaqqi dari segi bahasa diambil daripada perkataan yaitu belajar secara berhadapan dengan guru. Sering pula disebut Musyafahah, yang bermakna dari mulut ke mulut (pelajar belajar Al-Qur’an dengan memperhatikan gerak bibir guru untuk mendapatkan pengucapan makhraj yang benar).

Metode Talaqqi pada dasarnya merujuk pada firman Allah SWT:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

“Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar)”(Surat Al-Furqan: 32)

Dalam menggapai kesuksesan memang dibutuhkan banyak pengorbanan baik materil maupun immateril (seperti fisik , waktu) dan yang penting adalah konsisten sebagai wujud kesungguhan kita. Tanpa itu tak mungkin suatu impian akan terwujud. Dan hal ini berlaku juga dalam mendidik para calon hafidz.

Butuh perhatian ekstra jika kita menginginkan buah hati menjadi penghafal Al-Qur’an. Peran orang tua cukup sentral karena di masa dini, anak lebih banyak berinteraksi dengan mereka tanpa mengesampingkan jasa guru. Karena guru terlebih yang sudah sanadnya telah bersambung sampai Rasulullah SAW sangat penting karena selain ketepatan makhorijul huruf, kelancaran bacaan juga sebagai bentuk orisinalitas bahwa apa yang diajarkan sesuai apa yang telah disampaikan oleh Baginda Besar Nabi Muhammad SAW.

Talaqqi pada anak bisa dimulai dengan membacakan untuk diperdengarkan pada anak satu surat pendek seperti Al-Fatihah dan Juz Amma berulang-ulang. Langkah selanjutnya adalah dengan mendikte mereka kalimat per kalimat, kemudian merangkainya dalam satu ayat yang utuh. Setelah hafal ayat baru berpindah ke ayat lain dengan cara yang sama. Dan barulah ketika sudah selesai satu surat kita murojaah (mengulang) dari atas sampai bawah.

Proses diatas mungkin bisa dilakukan setelah sholat berjamaah. Namun jika tidak memungkinkan minimal setelah sholat subuh dan setelah maghrib. Menjelang anak tidur juga menjadi sarana terbaik untuk murojaah. Jadi lagu atau musik pengantar tidur bisa kita ganti dengan Al-Qur’an.

Murottal Imam-Imam Masjidil Haram seperti Syekh Thoha al-Junaid saat beliau masih belia dapat menjadi sarana membantu untuk murojaah hafalan. Murottal bisa kita menyalakan sambil membangunkan anak tidur di pagi atau menjelang waktu sholat terlebih sebelum maghrib yang hal ini banyak dilakukan di masjid-masjid.

Metode Talaqqi diatas sudah pernah penulis temui pada sosok Al-Maghfurlahu KH. Maftuh Said yang sering memperdengarkan ayat suci Al-Qur’an kepada putra-puterinya, bahkan sebelum mereka membacanya dengan melihat mushaf. Dan masih banyak lagi-lagi trik dan tips yang bisa kita gali dari banyak sumber dalam mendidik anak untuk menghafalkan Al-Qur’an.

Selain ikhtiar diatas, doa tak terputus harus selalu dipanjatkan karena anak kita diberi kemudahan dan keberkahan dalam menghafal Al-Qur’an. Riyadhoh atau tirakat orang tua di masa mudanya, setelah menikah saat memasuki masa kehamilan sampai melahirkan juga sangat berperan untuk kemudahan dalam menghafalkan Al-Qur’an.

Ibarat pedang, riyadhoh adalah cara mengasah pedang tersebut agar tajam saat menebas musuh. Begitu juga saat dikembalikan pada Al-Qur’an, riyadhoh adalah cara memudahkan dalam menghafal Al-Qur’an dan mengajarkan kepada buah hati.

Menjaga apa masuk ke dalam mulut barang syubhat apalagi haram, menjaga pandangan mata dari penglihatan yang diharamkan, menjaga telinga dari mendengarkan yang dilarang, menjaga mulut dari perkataan yang tak berfaedah serta menjaga hati dari iri, hasad (dengki), ujub (membanggakan diri), takabbur dan penyakit hati lainnya juga adalah sarana terbaik dalam mengkader anak untuk menjadi penghafal Al-Qur’an.

Begitulah Al-Qur’an, suatu kitab suci yang sampai saat ini tetap terjaga kemurniannya lewat para penghafalnya. Mukjizat terbesar Rasulullah yang akan memberi anugerah kepada orang tua mahkota dan jubah kemuliaan di akhirat kelak. Dan Kalam Illahi yang akan menuntut pembaca, penghafal serta pengamalnya untuk meraih syafaat sebagai salah satu kunci surga. []

SUMBER

Leave a reply