5 Kendala Pembelajaran Ilmu Qiraat di Indonesia

Oleh: Mochamad Ihsan Ufiq.

Perlu dipahami, bahwa pembelajaran ilmu qiraat yang dimaksud disini adalah pembelajaran yang sifatnya komprehenship, komplit secara musyafahah, talaqqi dengan itqan, mempelajari ilmu qiraat secara teliti dengan menghafal bait-bait qiraat sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama pendahulu kita. Adapun pembelajaran ilmu qiraat yang sifatnya pengenalan, pengantar bacaan per-riwayat, tilawah bil qiraat atau pengenalan ucap qiraat dll maka bukan yang dimaksud dalam pembahasan disini.

قال الشيخ محمد أروانى بن محمد أمين القدسى : من أراد علم القراءات عن تحقيق فلا بد له من حفظ كتاب كامل كالشاطبية يستحضر به اختلاف القراء ثم يفرد القراءات التي يريدها رواية رواية ويجمعها قراءة قراءة حتى يتمكن من كل قراءة على حدتها (فيض البركات في سبع القراءات الجزء الأول الصفحة 5)

Syaikh Muhammad Arwani bin Muhammad Amin al-Qudusi berkata: “Barangsiapa berkeinginan untuk mempelajari ilmu qiraat dengan penuh ketelitian maka diharuskan baginya untuk menghafal sebuah kitab sempurna seperti (bait-bait) asy-Syathibiyyah, (sebab hafalan tersebut) ia dapat menyebutkan perbedaan baca aimmah qiraat. Kemudian ia dapat membaca qiraat yang ia inginkan secara per-riwayat lalu menjama’nya secara per-qiraat hingga ia bisa menguasai masing-masing qiraat secara tersendiri.” (Kitab faidh al-Barakat fii Sab’ al-qiraat juz 1 hal. 5).

Sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Abdun Nashir Abdul Hakam (guru penulis) bahwasannya standar atau tolok ukur seseorang dikatakan telah mahir atau pakar di dalam ilmu Qiraat adalah ketika ia dapat menunjuk sebuah kata dalam Al-Qur’an secara acak. Setelah itu, ia dapat menjelaskan perbedaan baca para aimmah qurro’, wajh-wajhnya, cara waqaf-ibtida’nya beserta dalilnya baik dari bait-bait asy-Syathibiyyah, ad-durrah al-Mudhiyyah dan Thayyibatun nasyr.

Ketika mengamati oase pembelajaran ilmu qiraat di Indonesia -sependek pengalaman penulis-, sebenarnya banyak diantara para huffadz yang berminat menekuni ilmu qiraat sebagaimana dijelaskan diatas. Namun, adakalanya keadaan mereka belum memungkinkan untuk memulainya.

Berikut ini adalah 5 kendala inti yang berhasil penulis himpun berdasarkan pengamanatan pendek selama ini :

1- Infaq Belajar ilmu Qiraat Yang Mahal

Bila di Qatar, penulis belajar ilmu Qiraat tidak dikenakan biaya, karena sang guru dicukupi kehidupannya melalui sebuah lembaga yang bergerak di bidang Al Quran disini. Sehingga beban kehidupan dan perekonomian beliau tercukupi. Sehingga beliau dapat fokus dan mencurahkan waktu dan ilmunya pada di halaqah Qiraat bersama murid-murid beliau.

Sedangkan di Indonesia, terkadang untuk mencapai taraf hidup yang cukup saja seorang ustadz adakalanya harus memiliki kerja sampingan. Andaikata ada, hal tersebut dirasa kurang mengingat kebutuhan keluarga yang wajib ditunaikan. Darisini, konsentrasi mengajar dapat terganggu dan kurang maksimal. Sehingga adakalanya sang ustadz harus membuka kelas pembelajaran Qiraat dengan infaq yang kurang terjangkau bagi para huffadz umumnya. Solusi dari problematika ini memang dibutuhkan seorang ustadz yang sudah cukup mapan atau yayasan/fihak-fihak yang bersedia mencukupi kehidupan sang ustadz.

2. Kesibukan Sang Ustadz

Seperti disampaikan pada point pertama, kesibukan guru penulis tidak lain hanyalah mengajar ilmu qiraat. Sehingga beliau dapat benar-benar totalitas di dalam mengajar. Tidak ada kesibukan lainnya selain menjadi imam shalat di masjid dan mengajar ilmu qiraat.

Kalau di Indonesia, adakalanya sang ustadz harus beraktifitas seperti berdagang, bekerja kantor, banyak mengisi daurah ke luar kota dll. Walhasil, sang ustadz memiliki waktu yang sangat terbatas. Sedangkan ilmu Qiraat ini tidak mengenal hemat waktu, seseorang harus bersedia hanyut bersamanya dan tenggelam di samuderanya. Untuk mencapai hal tersebut membutuhkan beberapa tahun guna menyelesaikannya.

Solusinya adalah seorang ustadz atau muqri’ qiraat yang sejati adalah ia yang lebih dapat mencurahkan waktunya lebih banyak untuk menyimak para santri hingga dapat bermunculan santri-santri yang kompeten dan ahli dalam ilmu qiraat.

3. Waktu Santri Yang Terbatas

Adakalanya seorang santri yang memiliki waktu terbatas. Memang bisa dimaklumi, karena umumnya peminat ilmu qiraat berasal dari kalangan yang sudah sukup bekal (hafidz 30 juz, mengusai basic agama, mampu membaca kitab bahasa arab dll). Sehingga ia perlu mengatur waktu untuk keluarga, jadwal mengajar, kerja, belajar ilmu lain dll.

Dalam hal ini, seorang penekun ilmu Qiraat memang harus dituntut bisa mengatur waktu, mana yang menjadi prioritas dan mana yang tidak. Dan pada akhirnya sebuah ilmu itu membutuhkan pengorbanan dan rasa penat untuk meraihnya. Ilmu apapun tidak akan bisa tercapai dengan cara bersantai-santai tanpa pengorbanan dan kerja keras.

4. Kapasitas, Keistiqamahan dan Kedisiplinan Seorang Guru

Diantara faktor utama penentu keberhasilan pembelajaran ilmu Qiraat adalah adanya seorang ustadz yang memang kompeten dan disiplin dalam mengajar ilmu Qiraat. Di Qatar, guru penulis boleh dikatakan adalah sosok yang sangat istiqamah dan memantau proses belajar murid-murid, di sini.

Sesekali beliau dijumpai marah karena keteledoran salah satu santri. Darisini, para santri merasa segan sekaligus dapat termotivasi dan bersemangat menghafal dan mengulang hafalan yang sudah menjadi kewajiban mereka. Begitu juga kelak ketika mereka mengajarkan kepada murid-muridnya.

3 hal diatas membutuhkan perjuangan, kesabaran dalam belajar, kesetiaan dan pengorbanan hingga waktu yang cukup lama. Seorang santri juga harus gigih, pantang mundur, sabar dengan setiap godaan dalam proses belajar. Hubungan kedekatan emosional yang terbina antara seorang guru dan murid sudah seharusnya seperti anak dan orang tuanya, dengan demikian diharapkan tidak ada sekat yang menjadi penghalang sampainya sebuah ilmu.

5. Tempat yang Kurang Terjangkau

Adakalanya point pertama hingga keempat bukanlah sebuah kendala, akan tetapi terdapat kendala lain yaitu seorang santri ilmu Qiraat tidak memungkinkan meninggalkan keluarga, anak, istri, kerja, jadwal kuliah atau tempat tinggalnya dll. Sebagaimana disampaikan di atas, bahwa ilmu ini membutuhkan bekal yang cukup dan waktu yang lumayan lama hingga menguasainya sertanya bimbingan seorang guru yang masif.

Sehingga, solusi yang dapat diberikan adalah mendirikan halaqah secara online. Tentu saja proses ini memiliki dampak negatif sehingga sebagian ulama membolehkannya dengan beberapa persyaratan sebagai berikut:

-Memastikan bahwa jaringan atau signal selalu dalam keadaan stabil, sekira Al-Qur’an terbaca 30 juz tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan oleh sang guru.

-Seorang guru harus memastikan bahwa santrinya benar benar telah menguasai basic pengetuaan ilmu Al-Qur’an seperti riwayat hafs, fasohah ada’, teori dasar tajwid, diutamakan telah memiliki sanad hafs sebelumnya.

-Tidak menjadikan seluruh proses talaqqi mulai awal hingga akhir melalui media online, harus ada moment pertemuan secara offline antara keduanya supaya barakah musyafahah tetap terjaga.

-Sang guru harus memastikan bahwa arahan atau koreksiannya ketika talaqqi online telah berhasil diperbaiki oleh sang murid ketika pertemuan offline.

Demikian beberapa point yang menjadi kendala proses pembelajaran ilmu Qiraat di Indonesia. Semoga terdapat pencerahan dan menjadi tambahan wawasan untuk pembaca yang budiman. []

Doha, 8 Februari 2022

Leave a reply