Apakah Basmallah Termasuk Ayat Surat Al-Fatihah?

Apakah basmalah termasuk ayat Alfatihah atau kah tidak? Pertanyaan ini akan kami coba jawab melalui pendekatan riwayat bacaan dan tidak masuk terlalu dalam pada perbedaan pendapat dalam masalah fiqih.

Pokok permasalahannya ada pada kata basmalah yaitu kalimat بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ yang ditulis dalam mushaf, apakah termasuk ayat Alquran atau kah tidak?

Para ulama’ sepakat bahwa basmalah merupakan bagian dari ayat Alquran pada surah an-Naml ayat 30; إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ , akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang basmalah yang ditulis di awal surah termasuk di awal surah Alfatihah.

Pembahasan kita fokuskan pada basmalahdi awal Alfatihah, apakah termasuk ayat Alfatihah atau tidak?

Dalam ilmu qira’ah (bacaan Alquran) ada istilah yang disebut dengan qira’ah sab’ah (7 varian bacaan Alquran) yang kesemuanya bersumber dari Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam– dan masing-masing bacaan ini, memiliki imam yang meriwayatkannya.

Imam-imam tersebut adalah Ibnu Katsir (Mekkah), Nafi’ (Madinah), ‘Ashim (Kufah), Kisa’i (Kufah), Hamzah (Kufah), Ibnu ‘Amir (Syam) dan Abu ‘Amr (Basrah). Penjelasan lebih detailnya tentang qira’ah sab’ah dan para imam ini akan dibahas pada kesempatan lainnya, insya Allah.

Berkaitan dengan permasalahan basmalahdi awal Alfatihah ini, terbagi menjadi dua kelompok:

Pertama; imam Mekkah dan Kufah memasukkah basmalah sebagai ayat pertama dalam surat Alfatihah.

Dengan kata lain, barangsiapa yang mengikuti bacaan riwayat imam Ibnu Katsir al-Makkiy (bukan Ibnu Katsir penulis tafsir Alquran), imam ‘Ashim, imam Kisa’i dan imam Hamzah, maka basmalah adalah ayat pertama di surah Alfatihah dan wajib dibaca.

Sedangkan kelompok kedua; para imam Madinah, Syam dan Basrah tidak memasukkan basmalah ke dalam ayat Alfatihah.

Itu artinya, siapa pun yang mengikuti bacaan riwayat imam Nafi’, imam Ibnu ‘Amir dan imam Abu ‘Amr, basmalah tidak termasuk bagian dari surah Alfatihah dan tidak wajib dibaca. (Silakan lihat kitab al-Qaul al-Wajiz karangan al-Mukhallilati hal. 161).

Lalu pertanyaan selanjutnya, kepada imam siapa riwayat bacaan Alquran kita atau riwayat bacaan orang Indonesia secara umum disandarkan?

Secara umum, riwayat bacaan Alquran kita merujuk kepada riwayat Hafs dari Imam ‘Ashim. Imam ‘Ashim adalah salah satu imam ahlul Kufah (penduduk Kufah).

Beliau belajar Alquran dari Abu Abdirrahman as-Sulami sedangkan Abu Abdirrahman as-Sulami mengambil bacaan dari beberapa sahabat terkemuka, seperti Abdullah ibnu Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, dan beberapa sahabat Nabi lainnya.

Dengan demikian, bacaan Alquran kita seharusnya memasukkan basmalah ke dalam ayat pertama dari surah Alfatihah. Dan dengan kata lain, basmalah harus kita baca setiap kali kita membaca Alfatihah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

Itulah sebabnya mushaf Alquran yang ditulis berdasarkan riwayat HAFSH dari Imam ‘ASHIM, baik yang dicetak oleh Mujamma’ Malik Fahd (penerbitan Alquran oleh kerajaan Saudi) atau yang dikenal sebagai Alquran Madinah maupun Mushaf Standar Indonesia, di akhir basmalah ditulis angka 1 (satu) yang menunjukkan bahwa basmalah adalah ayat pertama dari surah Alfatihah.

Sampai sini sebenarnya kita sudah tidak perlu berdebat lagi soal apakah basmalah dibaca atau tidak ketika membaca Alfatihah, karena kita menggunakan riwayat yang sama; riwayat yang mengatakan bahwa basmalah termasuk ayat pertama dari surah Alfatihah, kecuali apabila ada yang mempunyai riwayat yang berbeda.

Jika basmalah tidak termasuk ayat Alfatihah, apakah berarti surah Alfatihah berkurang ayatnya menjadi 6 ayat, padahal surah Alfatihah disebut dengan “tujuh ayat yang diulang-ulang”?

Bagi yang mengambil riwayat para imam Madinah, Syam dan Basrah, yang mana basmalah tidak termasuk ayat dalam surah Alfatihah, tidak mengurangi jumlah ayat.

Dengan kata lain, surah Alfatihah tetap berjumlah 7 ayat. Ayat yang pertama dimulai dari “alhamdulillahi…”, sedangkan ayat yang ke-enam “shiratal ladziina an’amta alaihim” dan ayat yang ke-tujuh “ghairil maghdhubi…” sampai “waladh-dhaallin“.

Apakah itu berarti kita harus mengeraskan bacaan basmalah saat membaca Alfatihah ketika shalat jahr?

Untuk menjawab pertanyaan ini, alangkah baiknya jika kita merujuk kepada pendapat para ulama’ madzhab.

Madzhab Hanafi: membaca basmalahdi awal Alfatihah tidak wajib.

Madzhab Maliki: membaca basmalahdi awal Alfatihah tidak wajib. Perlu diketahui bahwa imam Malik adalah murid dari imam Nafi’-imam ahlul Madinah- yang tidak memasukkan basmalah ke dalam surah Alfatihah dan juga berdasarkan dalil-dalil lainnya.

Madzhab Syafi’i: membaca basmalahdi awal Alfatihah adalah wajib karena basmalah merupakan ayat dari Alfatihah. Dibacasirr (pelan) saat shalat sirr, dan dibaca jahr (keras) ketika shalat jahr.

Madzhab Hambali : ada dua pendapat;

Membaca basmalah di awal Alfatihah tidak wajib

Basmalah merupakan ayat dari surah Alfatihah (seperti madzhab Syafi’i) hanya saja, basmalah tetap dibaca sirr (pelan) meskipun Alfatihah dibaca jahr (keras) ketika shalat jahr. (lihat kitab al-Mughnikarangan Ibnu Qudamah Hal. 346-347)

Kesimpulan:

Dalam riwayat yang kita gunakan, basmalah merupakan ayat dari surah Alfatihah sehingga harus dibaca ketika membaca Alfatihah.

Apabila kita condong kepada madzhab Hanbali lalu kita menjadi imam dalam shalat jahr, alangkah baiknya kita mengeraskan basmalahapabila makmum yang shalat belakang kita mengikuti madzhab Syafi’i. Demikian itu, agar tidak menimbulkan was-was di hati makmum yang shalat di belakang kita. Wallahu a’lam bish shawab. []

SUMBER

Leave a reply