Bagaimana Caranya Mengambil Sanad

Sunnahnya, sanad yang dicari adalah sanad yang tinggi, sanad yang jaraknya dekat dengan sumber periwayatan. Dalam konteks Alquran atau Hadits, maka semakin sedikit jumlah perantara antara seseorang dengan Nabi, sanad yang dimilikinya dinilai semakin tinggi (‘ali). Karena jaraknya terhitung dekat. Semakin banyak jumlah perantara antara dia dengan Nabi, maka sanadnya dinilai semakin rendah (nazil).

Selain persoalan jarak dan perantara, cara mengambil sanad / cara meriwayatkan (thariqah tahammul wal ada), juga mesti diperhatikan. Dalam periwayatan, kedudukan sanad yang jumlah perantaranya sama, tetap dinilai berbeda disebabkan cara meriwayatkannya berbeda.

Para ulama hadits mengurutkan cara meriwayatkan dari yang paling tinggi sebagai berikut:

1. As-Sama’ (murid menyimak dari guru),

2. Al-‘Aradh (murid membacakan kepada guru), menurut Al-Imam Malik cara ini lebih tinggi daripada As-Sama’, sedangkan jumhur (mayoritas ulama) berpendapat sebaliknya.

3. Al-Ijazah (murid tidak membacakan atau menyimak, guru langsung memberikan izin (ijazah) untuk meriwayatkan, baik secara lisan atau tulisan. Cara meriwayatkan seperti ini sah menurut jumhur.

Kadangkala murid membaca sebagian atau menyimak sebagian, sedangkan untuk menyambungkan sanadnya secara sempurna, maka guru memberikan ijazah pada muridnya.

Kadang juga guru menguji muridnya, setelah dinilai lulus, maka gurunya memberikan ijazah dengan sanad yang tersambung kepada sumber riwayat.

4. Al-Munawalah (guru memberikan naskah periwayatan asli atau salinan yang telah dikoreksi tanpa disertai lafazh ijazah kepada muridnya), para ulama sepakat mengenai kesahihan cara meriwayatkan ini, dimana dimana sebagian di antara mereka menyetarakan al-munawalah dengan al-ijazah, bahkan ada sebagian ulama yang berpendapat al-munawalah ini lebih tinggi kedudukannya daripada al-ijazah.

5. Al-Mukatabah (guru memberikan naskah yang diriwayatkan, dengan atau tanpa lafazh ijazah, kepada muridnya secara tidak langsung dengan perantara seseorang yang terpercaya). Status periwayatan ini sama dengan al-ijazah bila disertai lafazh ijazah, dan para ulama berbeda pendapat bila tidak disertai lafazh ijazah, dimana sebagian besar ulama berpendapat shahih meriwayatkan melalui cara ini.

Adapun menurut ulama Al-Quran, kualitas sanad qiraat berdasarkan cara meriwayatkan, diurutkan dari yang paling tinggi adalah sebagai berikut:

1. Menggabungkan antara as-sama’ dan al-‘aradh sekaligus secara sempurna 30 juz. Yakni guru membacakan Alquran kepada muridnya, kemudian muridnya mengulangi bacaan tersebut sambil dikoreksi. Namun, cara ini sudah jarang dilakukan zaman sekarang. Setelah selesai dan gurunya yakin bahwa muridnya bisa mempraktikkan bacaan dengan baik serta mengajarkannya, maka gurunya memberikan ijazah (izin) untuk membaca (fil qiraah) dan mengajarkan (wal iqra).

2. Al-‘Aradh. Yakni murid membacakan Alquran secara sempurna 30 juz kepada gurunya, baik ifrad (satu riwayat) atau bil jama’ (membaca dengan menggabungkan beberapa qiraat dalam satu bacaan). Yang lebih utama adalah membacanya dengan hafalan, dan sebagian ulama qiraat menerima setoran bacaan tanpa hafalan, selama memenuhu kaidah hukum-hukum tajwid. As-Suyuthi dalam Al-Itqan mengatakan bahwa hafalan bukanlah syarat mendapatkan ijazah. Setelah selesai dan gurunya yakin bahwa muridnya bisa mempraktikkan bacaan dengan baik serta mengajarkannya, maka gurunya memberikan ijazah (izin) untuk membaca (fil qiraah) dan mengajarkan (wal iqra).

3. As-Sama’. Seorang murid menyimak bacaan gurunya dari awal sampai akhir, tanpa mengulangi bacaan tersebut. Setelah selesai dan gurunya yakin bahwa muridnya bisa mempraktikkan bacaan dengan baik serta mengajarkannya, maka gurunya memberikan ijazah (izin) untuk membaca (fil qiraah) dan mengajarkan (wal iqra).

4. Al-Ikhtibar. Seorang guru menguji bacaan muridnya pada sebagian tempat Alquran, baik dari sisi tajwid atau dari sisi variasi qiraat. Bila lulus, maka gurunya memberikan ijazah (izin) untuk membaca (fil qiraah) dan mengajarkan (wal iqra).

5. Biba’dhil Quran. Seorang murid membaca sebagian surat atau ayat Alquran, kemudian gurunya memberikan ijazah (izin) untuk membaca (fil qiraah) dan mengajarkan (wal iqra), untuk seluruh Alquran, bukan hanya ayat atau surat yang dibacanya saja.

Termasuk kategori ini adalah apabila ada beberapa murid yang membaca Alquran secara munawabah / bit tanawub (berkelompok secara bergiliran). Setelah selesai membaca 30 juz secara bergiliran, maka gurunya memberikan ijazah (izin) untuk membaca (fil qiraah) dan mengajarkan (wal iqra) untuk seluruh Alquran, bukan hanya surat atau ayat yang dibacanya saja.

6. Al-Ijazah. Seorang guru langsung memberikan ijazah (izin) untuk membaca (fil qiraah) dan mengajarkan (wal iqra), tanpa mendengar bacaan muridnya, tanpa membacakan Alquran kepada muridnya. Hal ini didasari atas pengetahuan dan keyakinan gurunya terhadap kemampuan muridnya.

Catatan:

👉🏻 Para ulama qiraat berbeda pendapat mengenai keshahihan ijazah untuk 3 nomor terakhir (no. 4-6). Sebagian ulama mengatakan shahih secara mutlak, sedangkan sebagian yang lain mensyaratkan penerima ijazah itu telah menerima ijazah sebelumnya dengan salah satu dari 3 cara yang pertama (no. 1-3).

Apabila ada seseorang yang menerima ijazah dengan salah satu dari cara 4-6, namun ia tidak pernah mendapat ijazah dengan salah satu dari cara no. 1-3, maka ijazahnya tidak sah, artinya tidak bisa diriwayatkan kepada murid-muridnya. Sanadnya tidak shahih.

Adapun bila sebelumnya telah mendapatkan ijazah dengan salah satu dari cara no. 1-3, maka ijazahnya sah, dan boleh diriwayatkan kepada murid-muridnya. Pendapat kedua ini yang sepertinya dipegang oleh kebanyakan ulama Alquran kontemporer. Wallaahu a’lam.

👉🏻 Bagi seseorang yang belum pernah menerima ijazah dengan salah satu cara no. 1-3, atau belum pernah bertalaqqi kepada gurunya, apakah boleh langsung meminta ijazah kepada gurunya (langsung meminta cara no. 6)..?

Menurut Al-Hamadzani : haram hukumnya meminta ijazah tanpa talaqqi sama sekali.

Adapun Al-Imam Ibnul Jazari tawaqquf (tidak memberikan komentar) akan hal ini. Namun, beliau mensyaratkan adanya kemampuan dan kepakaran murid yang diberikan ijazah. Bila gurunya yakin muridnya memang ahli, mampu, dan memiliki kepakaran dalam Alquran riwayat tersebut, maka tidak apa-apa memberikan ijazah padanya.

Apa yang dibicarakan di atas, seluruhnya berkaitan dengan mencari sanad atau meminta ijazah (thalabul ijazah). Semua ini termasuk persoalan memasuki kota ilmu dari gerbang riwayah.

Maka seseorang yang akan mencari sanad atau meminta ijazah (riwayah), hendaknya terlebih dahulu mengetahui keadaan dan periwayatan gurunya, sebelum ia memutuskan meminta ijazah darinya.

Adapun bila yang dituju bukan ijazah atau sanad, melainkan pemaparan dan penjelasan (dirayah), pemahaman dan pendalaman ilmu tajwid atau qiraat misalnya, maka yang utama dijadikan bahan pertimbangan bukanlah sanad atau jalur-jalur periwayatannya. Melainkan kemahiran, kemampuan, dan pemahaman dalam persoalan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, maka kita akan mendapatkan hasil yang bisa kita timbang, apakah guru ini benar-benar memiliki kemampuan dalam hal tersebut atau tidak.

Sebagian ulama mengatakan, bagi seseorang yang ingin mencari tahu keadaan gurunya, boleh baginya duduk dalam majlis guru tersebut selama beberapa waktu, kemudian ia berdiskusi dengan guru-guru sebelumnya, lalu beristikharah, meminta petunjuk apakah gurunya ini adalah orang yang tepat untuk mengajarkannya atau tidak.

Bila dalam waktu 2 bulan ia belum menemukan ketenangan, maka ia boleh mencari guru yang lain, atau bersabar atas sebagian kekurangan yang ada pada guru tersebut. Karena tidak ada orang yang sempurna. Sedangkan bila ia telah tenang dan nyaman dengan guru tersebut, maka janganlah ia tinggalkan majlis gurunya sebelum ia menuntaskan pelajaran-pelajaran yang diberikan gurunya dari awal sampai akhirnya.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa, terdapat cara pandang dan pertimbangan yang berbeda saat kita ingin memasuki kota ilmu dari gerbang riwayah dengan gerbang dirayah. Bila sejak awal perjalanan kita diniatkan untuk mencari sanad atau meminta ijazah (riwayah), maka carilah sanad yang tinggi dan berkualitas, terlepas bagaimana keadaan dan kedalaman pemahaman guru tersebut, karena kadang atau bahkan seringkali sanad yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan luasnya pengetahuan dan dalamnya pemahaman.

Adapun bila sejak awal ingin mencari pemaparan, penjelasan, dan pendalaman materi (dirayah), maka carilah guru yang memang ahli dalam bidang ilmu tersebut, tanpa perlu melihat sanad dan periwayatannya. Karena realitanya, mereka yang luas pengetahuannya serta dalam pemahamannya, tidak mesti harus selalu memegang sanad yang tinggi. Bahkan, bisa jadi tidak memiliki sanad dan jalur periwayatan sama sekali.

Baik yang pertama atau kedua tidaklah tercela. Kecuali mereka yang selalu merasa puas dan akhirnya berhenti pada titik dimana seharusnya ia baru memulai.

Namun demikian, bila kita ditaqdirkan dipertemukan dengan seorang guru yang ahli dan sekaligus memegang sanad tinggi, maka jelas itu merupakan rizki yang besar, yang mesti diambil manfaatnya sebanyak-banyaknya.

Wallaahu a’lam. []

SUMBER

Leave a reply