Tajwid Menurut Ibnul Jazari

Tajwid menurut Ibnul Jazari telah dijelaskan oleh beliau sendiri di salah satu kitab tulisan beliau yang fenomenal, yaitu Manzhumah Jazariyyah. Siapa saja yang pernah mempelajari matan tajwid pastilah kenal dengan seorang ‘alim yang bernama Ibnul Jazari. Ya, beliau adalah salah seorang imam dalam ilmu tajwid dan qiro’ah. Bahkan rasanya tak berlebihan jika seandainyapun ada yang menjuluki beliau dengan julukan ‘Bapak’ Ilmu Tajwid.

Dalam ilmu tajwid beliau merupakan salah satu ulama yang dijadikan rujukan oleh kaum muslimin hingga hari ini. Karena kedalaman ilmu beliau bak samudera yang sangat luas dalam ilmu ini maka warisan beliau berupa kitab-kitab tulisan beliau dipelajari dan diajarkan dari masa kemasa, diantaranya adalah kitab beliau; Manzhumah Al-Jazariyyah.

Dalam kitab Manzhumah Jazariyyah terdapat satu bab khusus yang beliau beri nama Bab Tajwid. Maka tulisan ini sejatinya adalah merupakan penjelasan dari bait-bait sya’ir yang beliau susun pada bab tersebut.

Berikut adalah tajwid menurut beliau rahimahullah:

باب التجويد

وَالأَخْـذُ بِالتَّـجْـوِيـدِ حَـتْــمٌ لازِمُ *** مَــنْ لَــمْ يُـجَـوِّدِ الْـقُـرَانَ آثِــمُ
لأَنَّــهُ بِـــهِ الإِلَـــهُ أَنْـــزَلاَ *** وَهَـكَـذَا مِـنْـهُ إِلَـيْـنَـا وَصَـــلاَ
وَهُـوَ أَيْـضًـا حِـلْيَـةُ الـتِّـلاَوَةِ *** وَزِيْــنَـــةُ الأَدَاءِ وَالْــقِـــرَاءَةِ
وَهْـوَ إِعْـطَـاءُ الْـحُـرُوفِ حَقَّـهَـا *** مِــنْ صِـفَـةٍ لَـهَـا وَمُستَحَـقَّـهَـا
وَرَدُّ كُـــلِّ وَاحِـــدٍ لأَصْـلِــهِ *** وَاللَّـفْـظُ فِــي نَـظِـيْـرِهِ كَمِـثْـلـهِ
مُكَمَّـلاً مِـنْ غَـيْـرِ مَــا تَكَـلُّـفِ *** بِاللُّطْـفِ فِـي النُّطْـقِ بِــلاَ تَعَـسُّـفِ
وَلَـيْـسَ بَـيْـنَـهُ وَبَـيْـنَ تَـرْكِـهِ *** إِلاَّ رِيَـاضَــةُ امْـــرِئٍ بِـفَـكِّــهِ

Dan mengamalkan tajwid hukumnya wajib secara mutlak bagi seluruh muslim mukallaf. Siapa saja orang yang sengaja tidak mengamalkan tajwid saat membaca Al-Quran, maka ia berdosa.

Hukum Mengamalkan Tajwid

Al-Imam Ibnul Jazariy rahimahullah berkata dalam Manzhumah Jazariyyah:

وَٱلأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتمٌ لَازِمُ *** مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ ٱلْقُرَانَ آثِمُ

“Dan mengamalkan tajwid hukumnya wajib secara mutlak bagi seluruh muslim mukallaf. Siapa saja orang yang sengaja tidak mengamalkan tajwid saat membaca Al-Quran, maka ia berdosa.”

Melalui bait ini Imam Ibnul Jazari rahimahullah ingin menegaskan dalam syairnya bahwa mengamalkan tajwid saat membaca Al-Qur’an merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Namun, dalam permasalahan ini terdapat perincian, khususnya berkaitan dengan mencapai kesempurnaan bacaan dan tajwid.

Hal ini diperkuat oleh riwayat yang datang dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullaah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda :

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ

“Seorang yang mahir membaca Al-Quran akan bersama para Malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah. Adapun yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan masih terasa sulit atasnya bacaan tersebut, maka baginya dua pahala.” [HR. Muslim]

Beberapa pelajaran penting yang bisa kita petik dari riwayat tersebut diantaranya:

1- Keutamaan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan pahala yang sangat besar bagi orang-orang yang mahir membaca Al-Qur’an. Merekalah yang dinamakan dengan muhsin ma’jur.

2- Keutamaan dan dua pahala bagi mereka yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata namun tidak berhenti belajar, mereka adalah musii’ ma’dzur (orang yang tersalah dan dimaafkan)

3- Analogi terbalik dari riwayat diatas adalah orang yang tidak mahir membaca Al-Qur’an dan tidak mau belajar untuk memperbaikinya maka bagi mereka adalah keburukan, merekalah yang dinamakan dengan musii’ aatsim (orang yang salah dan berdosa).

4- Meskipun demikian, diperbolehkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an dengan kualitas yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan keadaannya.

Misalnya saat ia membaca Al-Qur’an sendirian, ia membacanya dengan kualitas yang biasa-biasa saja, namun ketika ia bertalaqqi di hadapan guru ia membacanya dengan sangat hati-hati dan berusaha untuk memperdengarkan bacaan terbaiknya. Hal ini diperbolehkan dan tidaklah termasuk perbuatan dosa []

SUMBER

Leave a reply