Menelurkan Mujaz yang Berkualitas

Mujaz adalah orang yang mendapat ijazah Al Qur’an, sebagaimana pernah ditulis pada artikel ini. Menurut sebagian orang kalau sudah mendapat ijazah Al Qur’an maka ia hafalannya lancar, bacaannya fasih, tajwidnya tepat 100%. Statemen ini tidak benar sepenuhnya.

Untuk mendapat ijazah secara umum anda tidak harus serba 100%. Bila secara keseluruhan bacaan anda sudah baik, hafalan anda baik maka anda sudah berhak mendapat ijazah Al Qur’an.

Di dalam masalah tajwid, setidaknya seorang mujaz yang handal harus bisa menguasai masalah- masalah berikut ini setelah bacaannya standar dan mengerti makhorijul huruf dan sifat. Bila tidak, maka ia dinilai sangat kurang dan ijazahnya diperoleh secara tasahul (gampangan) dan hendaklah ia segera menutup kekurangan tersebut segera karena merasa malu kepada Allah Swt dengan ijazah tersebut:

1. Ghoroibul Qiraah

Istilah gharaib (bacaan aneh) tidak dipakai di kitab kitab tajwid arab. Istilah yang biasanya digunakan adalah “Yang perlu diperhatikan”,, “Catatan riwayat Hafs”. Alasannya karena bagi orang arab bacaan-bacaan tersebut tidaklah aneh, cuma perlu diperhatikan saja.

Diantara ghoroib tersebut adalah bacaan tashil, imalah, isymam, roum, saktah, ibdal dll.

2. Hukum Ro’

Kalau boleh penulis katakan, huruf ro ini adalah huruf ampibi (punya sifat ganda) . Semua huruf hijaiyyah kalau gak bersifat istifal ya bersifat isti’la, kecuali huruf ro’.

Kadang isti’la kadang istifal, tergantung keadaannya. Huruf lam saja yang juga huruf ampibi masih digolongkan huruf istifal di dalam kitab tajwid. Penyebab ia masuk sifat istifal karena memang istilanya (tafkhimnya) hanya pada lafadz jalalah yang didahului dhommah dan fathah saja. Ada juga di riwayat warsy dengan persyaratannya.

Tapi untuk huruf ro’ skala isti’la (tafkhimnya) dan istifalnya (tarqiqnya) seimbang. Hukum asalnya memang tafkhim, dan ia selalu ditarqiqkan dengan adanya penyebab seperti didahului kasrah atau ya’. Mustahil terdapat ro dibaca tarqiq tanpa sebab.

Pembahasan yang harus dikuasai bukan kapan ro’ tebal dan kapan tipis. Namun lebih dari itu, seperti : kapan boleh 2 wajah (cara baca) dan mana yang didahulukan, penyebab tarqiqnya apa, dan penyebab tafkhim asalnya apa. Contoh:

يسر، نذر، مصر، ااقطر، فرقة، فرق، والفجر، ارتضى

3. Cara Waqaf pada ta’ mabsuthoh atau marbuthoh

Al Qur’an memiliki cara penulisan yang unik dan berbeda-beda. Seperti penulisan huruf akhiran, ada kalanya tertulis dengan ta’ mabsuthoh (ت) atau ta’ marbuthoh (ة). Konsekwensinya terletak pada cara waqaf. Bila ta’ marbuthoh waqaf dengan ha, bila mabsuthoh maka dengan ta’ biasa. Contoh:

شجرة – شجرت، جنة – جنت، بقية – بقيت، رحمة – رحمت، ثمرة – ثمرت، كلمة – كلمت،

4. Tafkhim dan Tarqiq

Tafkhim tarqiq adalah pembahasan yang inti dalam ilmu tajwid. Dari cara pembawaan seorang qori terhadap bacaan tarqiq dan tafkhim kita bisa mengetahui lisannya arabi atau non arabi, berijazah atau tidak, terpelajar atau tidak.

Bukan tafkhim atau tarqiq biasa disini, akan tetapi pembahasan tingkatan tafkhim. Kapan ditafkhimkam secara total, dan kapan ditafkhimkam secara nisbi (penisbatan saja). Contoh:

اغفر، اختالف، اغفر، اخراج، غشاوة، نخرة

5. Cara memulai hamzah washal

Hamzah washal ini pembahasan yang unik. Bentuknya hurud alif diatasnya ada kepala shod. Bila didahului huruf lain seperti : واصبر atau kalimat lain seperti : ارتضى من maka ia gugur tidak dibaca. Tapi kalau dibaca dari permulaan maka adakalanya :

a) dibaca dhommah bila huruf dhommah seperti : اسكن اغلظ، اخرج،

b) dibaca kasro bika hurid ketiga kasroh atau fathah seperti : اعلموا اضرب، ارجع، اركب،

الحمد ، الشيطان ، اإلنسان، البرق : seperti Ta’rif, lam diberikuti bila fathah dibaca c)

Tapi bukan ini yang dimaksud. Namun kata-kata yang menyalahi kaedah diatas atau serupa tapi beda, seperti : امشوا، اسم، امرأ، ابن، اقضوا،

6. Waqaf pada awakhiril kalim

Ilmu waqaf ini mengambil porsi besar dalam pembahasan tajwid. Makanya tidak salah bila Sayyidina Ali menamakan tajwid adalah mengetahui cara waqaf. Memang kalau kita membuka pembahasan bab waqaf pada akhiran kata, kita akan menemukan perincian yang cukup rumit. Namun bagi seorang mujaz, sangat tercela bila tidak memahaminya.

Waqaf pada akhiran kata adakalanya dengan sukun, roum, isymam, belum lagi dengan syarat- syaratnya. Kapan boleh roum, kapan boleh isymam, kapan boleh mad aridh dll.

Alhamdulillah, penulis diberi amanat untuk dapat menemani 2 orang setoran membaca Al Qur’an secara sanad. Sehingga setiap kali sampai pada 6 hal di atas selalu penulis berhentikan untuk ditanya dan dipastikan apakah ia benar-benar faham dan mengerti. Tujuannya tidak lain untuk menelurkan para mujaz yang berkualitas dan berkapasitas memadai. Bukan mujaz yang sekedar khatam, mujaz kasihan, mujaz bayar, sampia mujaz tipu-tipu dll.

Ini standar penulis yang diterapkan. Tentu masing-masing orang memiliki standar yang berbeda-beda. IIntinya jangan terlalu ketat jangan terlalu longgar, kualitas keilmuan dan kompetensi harus tetap terjaga, karena Al Qur’an adalah amanat. []

Sumber: Kumpulan Mutiara Al-Quran | Goresan Tinta Ustadz Mochamad Ihsan Ufiq | Penyusun dan Pentagqiq: Imam Safi’i, S.S

TagsMujaz

Leave a reply