Bagaimana Al-Quran Ditulis?

Mungkin banyak yang menjawab bahwa Al-Quran ditulis di masa Khalifah Utsman bin Affan. Padahal sesungguhnya Al-Quran ditulis sejenak setelah wahyu turun kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kemudian saat pecah perang Yamamah (Riddah) di masa Abu Bakr Ash-Shiddiq, 70 Sahabat yang hafal Al-Quran syahid. Pada saat itu Al-Quran belum dibukukan.

Melihat banyaknya orang yang hafal Al-Quran syahid, Umar bin Al-Khathab mengusulkan kepada Abu Bakar supaya dilakukan pembukuan Al-Quran.

Semula Abu Bakar menolak memutuskan dilakukan pembukuan Al-Quran dengan alasan hal itu tidak pernah dilakukan RasuluLlah ShallaLlahu ‘Alaihi wa Sallam.Namun akhirnya ALlah melapangkan dada Abu Bakr untuk menerima pendapat Umar. Lalu keduanya pun mendatangi Zaid bin Tsabit.

Keduanya pun mendatangi Zaid bin Tsabit guna memintanya supaya bersedia untuk menjadi ketua tim pembukuan Mushaf. Tapi Zaid menolak.

Zaid menolak dengan alasan yang Abu Bakar sampaikan; Bagaimana Anda berdua melakukan perbuatan yang belum pernah dilakukan Rasulullah?

Akhirnya Allah lapangkan dada Zaid untuk menerima usulan dan menjadi ketua tim pembukuan Al-Quran. Hingga tuntaslah tugas tersebut.

Singkat cerita, mushaf Al-Quran yang ditulis Zaid tersebut dipegang oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah masa itu. Setelah Abu Bakr wafat, mushaf tersebut dipegang Umar. Dan setelah Umar wafat, mushaf dipegang oleh Hafshah binti Umar.

Bagaimana Al-Quran di masa Utsman bin Affan?

Sebagaimana kebiasaan orang Arab pada zamannya, Al-Quran di masa kenabian ditulis tanpa titik, tanpa baris, dan tanpa hamzah. Meski tanpa titik, tanpa baris, dan tanpa hamzah, namun mereka tetap bisa membacanya dengan benar dan tidak menjadi masalah bagi mereka.

Hal itu karena bahasa Arab adalah bahasa mereka dan mereka memang ahlinya. Mereka berbicara dan membacanya secara alamiah dan sewajarnya. Kebiasaan menulis tanpa titik, tanpa baris, dan tanpa bentuk hamzah ini yang berlaku sampai masa Ali bin Abi Thalib.

Jadi, pada masa Utsman bin Affan belum dikenal titik yang membedakan antara huruf-huruf yang mirip. Tidak ada beda antara huruf ba`, ta`, & tsa`.

Di masa Utsman, tidak ada perbedaaan bentuk tulisan huruf jim, ha` & kha`. Tidak beda antara dal & dzal. Bentuk ra` & zai pun sama. Bahkan huruf shad, dhad, tha` & zha` memiliki kesamaan bantuk. ‘Ain pun sama dengan ghain.

Di masa Utsman juga tidak dikenal baris (syakal/harakat) yang menunjukkan fat-hah, kasrah, dhammah, tanwin, & sukun. Pada intinya di masa Utsman, mushaf Al-Quran bener2 ‘gundul’. Bukan hanya tanpa harakat (baris), tapi juga tanpa titik pembeda huruf.

Kok bisa mereka tidak salah dlm membaca? Kesalahan berbahasa Arab mulai muncul seiring banyaknya orang non-Arab yang masuk Islam. Mushaf Utsmani berarti nisbat kepada Utsman bin Affan? Artinya mushaf yang ditulis & diduplikasi di masa Utsman. []

Leave a reply