Kata Wahid dalam Al-Quran

Al-Qur’an terdiri atas 114 surat. Nama dari surat-surat dalam Al-Qur’an itu biasanya diambil dari kandungan cerita atau makna yang ada pada surat tersebut.

Seperti surat Al-Fatihah, dinamakan surat Al-Fatihah karena surat itu sebagai pembuka dari Al-Qur’an. Kata Al-Fatihah dari kata Fataha yang bermakna membuka. Walaupun di dalam surat tersebut tidak terdapat kata Al-Fatihah.

Seperti surat An-Nas, dinamakan dengan surat An-Nas karena surat tersebut mengandung kata An-Nas.

Dari sekian banyak surat Al-Qur’an, surat Al-Ikhlas adalah salah satu surat yang tidak terdapat kata ikhlas di dalamnya. Surat ikhlas membahas tentang ke-esaan ALLOH. Yang berarti ikhlas adalah hanya karena ALLOH.

Pada surat Al-Ikhlas, ALLOH memperkenalkan dirinya dengan kata Ahad.

قل هو الله أحد

Sedangkan pada surat yang lain, ALLOH memperkenalkan dirinya dengan kata Wahid. Seperti:

إله واحد

Kata Ilaahun Waahid terdapat dalam 11 surat dalam Al-Qur’an.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas perbedaan kata Ahad yang bermakna esa dan kata Wahid yang bermakna satu.

Pertama, kata Wahid adalah permulaan angka atau bilangan. Seperti satu, dua, tiga dan seterusnya.

Sedangkan kata Ahad adalah bilangan yang terhenti, yaitu esa, tunggal dan tak ada bandingannya.

ولم يكن له كفوا أحد

Kedua, kata Wahid memiliki bentuk kata muannats (bentuk kata perempuan), yaitu: Wahidah (واحدة).

Sedangkan kata Ahad tidak ada bentuk untuk perempuan. Dan ini dinamakan Maqomut Tasyrif (Pangkat kemuliaan).

Ketiga, kata Wahid bisa digunakan sebagai sifat untuk siapa dan apa saja. Seperti Rojulun Wahid (orang laki-laki satu), Kitabun Wahid (satu kitab).

رجل واحد

كتاب واحد

Sedangkan kata Ahad adalah sifat yang hanya khusus untuk ALLOH semata. Seperti contoh:

قل هو الله أحد

Kita tidak diperbolehkan menggunakan kata-kata Rojulun Ahad, kata ini adalah kata yang salah.

Keempat, kata Wahid bisa terbagi menjadi beberapa bagian, seperti satu perempat, satu pertiga dan seterusnya.

Sedangkan kata Ahad tidak bisa terbagi. Ahad berarti tunggal.

Kelima, kata Wahid tidak meniadakan secara sempurna. Seperti contoh:

ما رأيت واحدا

“Saya tidak melihat satu orang”.

Kalimat itu memiliki makna: tidak melihat satu orang. Tetapi memiliki kemungkinan melihat dua orang, tiga orang atau lebih.

Sedangkan bila menggunakan kata Ahad seperti contoh:

ما رأيت أحدا

“Saya tidak melihat seseorang”.

Maka kalimat itu memiliki makna tidak melihat seorang pun, baik satu, dua, tiga maupun lebih.

Keenam, kata Wahid bisa digunakan untuk makhluk berakal maupun untuk yang lain. Seperti:

رجل واحد

جمل واحد

Rojulun Wahid (Laki-laki satu).

Jamalun Wahid (Onta satu).

Sedangkan Ahad khusus untuk ALLOH saja. Atau bahasa nahwunya khusus untuk yang berakal.

Ketujuh, kata Wahid berbentuk isim Fa’il, sedangkan kata Ahad berbentuk isim sifat musyabbahah. Seperti diketahui bahwa isim sifat musyabbahah lebih kuat daripada isim Fa’il.

Kedelapan, kata Wahid dimulai dengan huruf Wawu. Huruf Wawu adalah huruf Layn yang lemah.

Sedangkan kata Ahad dimulai dengan huruf Hamzah Qotho’. Hamzah adalah huruf yang kuat.

Inilah sedikit yang dapat kita fahami.

Semoga kita hidup, mati dan dibangkitkan dengan membawa kalimat Tauhid.

Semoga bermanfaat. []

SUMBER

Leave a reply