Jaringan Sanad Qiro’at Ulama Sulawesi Selatan

 Oleh: Muhammad Abid Muaffan

Alhamdulillah pada 5 Oktober 2020 kami telah menyelenggarakan Seminar Sanad Qiro’at Anregurutta KH. Junaid Sulaiman, Pendiri Pondok Pesantren Al-Junaidiyyah, Kelurahan Biru, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Dalam seminar ini kami didampingi Drs. Jamaludin Abdullah, M.Th.I, Pimpinan Pondok Modern Al-Junaidiyyah, Biru, Bone Sulawesi Selatan dan Dr. Muslihin Sultan Abdul Kadir, Dosen Institut Agama Islam (IAIN) Bone menyampaikan tentang riwayat sanad Qiro’at KH. Junaid Sulaiman (1921-1996),

Dalam seminar sesi ini kami juga menguraikan tentang Jejaring Sanad Qiro’at Sayyid Ahmad Hamid bin Abdurrozaq At-Tiji, Syaikhul Qurro Hijaz (1285 – 1368 H). Sayyid Ahmad at-Tiji dikenal sebagai Muara Sanad Qiro’at Nusantara, karena banyak sekali murid-murid beliau yang tersebar di berbagai penjuru Tanah Air. Jaringan sanadnya yang masuk dalam data penelitian Sanad Qiro’at Nusantara tersebar dari Banda Aceh, Medan, Batubara, Mandailing Natal, Palembang, Garut, Bandung, Jombang, Martapura, Makassar, Lombok, Bone Hingga Manokwari, Papua Barat.

Seminar yang berlangsung sampai dua jam ini diselenggarakan mulai ba’da Duhur hingga menjelang adzan maghrib tiba. Bertempat Ruang Rapat Pondok Modern Al-Junaidiyyah, Kelurahan Biru, Kecamatan Tanette Riatang, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, seminar ini berjalan dengan sistem daring karena pandemi covid-19 yang tak berkesudahan. Meski begitu tak menghalangi kekhidmatan acara perdana ini.

Pondok Pesantren Modern al-Junaidiyyah didirikan oleh KH. Junaid Sulaiman yang merupakan murid Syaikh Ahmad Abdullah Hijazi al-Faqih, Pengarang Qaul Sadid fi Ahkami Tajwid sekaligus Khalifah Syaikh Ahmad Hamid at-Tiji. KH. Junaid Sulaiman selain dikenal sebagai seorang penghafal Al-Qur’an juga penulis, salah satu karangannya adalah Risalah at-Tidzkar li Mutakharriji al-Madrasah Shoulatiyah bi Makkah al-Mukarramah.

Syaikh Ahmad Abdullah Hijazi al-Faqih (1303 – 1381) adalah juga dikenal Syaikhul Qurro’ Makkah al-Mukarramah. Banyak sekali murid beliau dari penjuru dunia termasuk dari Nusantara. Beberapa ulama ternama sempat belajar kepadanya diantaranya Syaikh Azrai Abdurrauf Medan, KH. Abdurrasyid Shiddiq Palembang (Keduanya adalah guru Prof. Dr. al-Habib Said Aqil Husein al-Munawwar), Syaikh Muhammad Zain Batubara, Syaikh Mahmud Syihabuddin Mandailing Natal, Syaikh Abdul Wahab Batubara. KH. Muhammad Nur, Pendiri Pondok Pesantren Pesantren MDIA Bontoala, Makassar juga menjadi tercatat sebagai kawan seperguruan KH. Junaid Sulaiman saat belajar kepada Syaikh Ahmad Hijazi.

Syaikh Ahmad Hijazi al-Faqih tercatat pernah belajar pula kepada ulama nusantara yakni Tubagus KH. Ma’mun bin Rafi’uddin al-Bantani dari Serang Banten yang belajar Syaikh Muhammad Syarbini ad-Dimyathi. Nama Syaikh Syarbini juga disebutkan dalam Fawaid Tarmasiyah fi Asanidi Qiro’at Isyriyyah dan Kifayatul Mustafid lima ala minal Asanid karya Syaikh Mahfudz Tremas dalam Qiro’at Asyaroh (Bacaan Sepuluh Imam) sebagai gurunya dalam ilmu Qiro’at. KH. Munawwir bin Abdullah Rosyad dalam sejarah Pesantren Krapyak Jogjakarta terbitan tahun 1975 juga menyebutkan bahwa saat belajar di Tanah Haram selama 21 tahun ini sempat belajar langsung kepada Syaikh Muhammad Syarbini ad-Dimyathi.

Selama mengasuh pesantren yang didirikan pada 21 Juli 1969, KH. Junaid Sulaiman yang sempat bermukim 13 tahun di Tanah Suci didampingi oleh Anregurutta KH. Hudzaifah, mertua KH. Syam Amir Yunus, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an al-Imam Ashim Makassar dan murid langsung Maha Guru Ulama Bugis, Anregurutta KH. As’ad bin Abdurrasyid, Pendiri Pondok Pesantren As’adiyyah, Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan.

KH. Syam Amir Yunus sendiri juga tercatat pernah belajar kepada KH. Yusuf Masyhar (1924-1994), Pendiri Madradatul Qur’an, Tebuireng, Jombang. KH. Yusuf Masyhar sebagaimana dikisahkan oleh KH. Cholil Dahlan, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang bahwa setiap jum’at pagi, beliau sering melihat KH. Yusuf datang ke Rejoso untuk menyetorkan hafalan Al-Qur’an kepada ayahandanya.

Dalam risalah sanad yang kami dapatkan dari keluarga besar KH. Dahlan Kholil, tertulis bahwa KH. Dahlan pernah belajar kepada Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji, bahkan salah satu putra beliau sempat bermukim di sekitar Rejoso. Sebagaimana tertulis dalam risalah tersebut disebutkan bahwa KH. Dahlan Kholil, selesai menyetorkan hafalan Qiro’at Sab’ah kepada gurunya tersebut pada tanggal 14 Rabi’ul Awwal 1351 H. Adalah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang mengundang Sayyid Hamid at-Tiji untuk mengajar di Tebuireng, namun tak lama kemudian beliau ke Tanah Suci dan disusul oleh KH. Dahlan Kholil.

KH. Dahlan Kholil juga menyebutkan bahwa yang menjadi perantara antara beliau dengan gurunya tersebut adalah Sayyid Muhammad Amin Kutbi, seorang ulama yang menjadi Mursyid Thariqah Muhammadiyah. Tuan Guru KH. Muhammad Zaini Abdul Ghoni (Guru Sekumpul) dalam catatan sanadnya juga menyebutkan bahwa beliau mendapat ijazah Sanad Qiro’at dari murid langsung Sayyid Ahmad at-Tiji ini. Di catatan pinggir bahwa disebut al-Kutbi (bukan al-Qutbi) karena datuk-datuknya adalah penjual kitab.

Dikutip dari Jurnal Pusaka bertajuk AGH. Huzaifah Pusaran Tradisi Santri di Qismul Huffadz Pesantren Biru, Bone ini, Muh. Subair menyebutkan bahwa KH. Junaid Sulaiman bersama kakaknya KH. Rafi Sulaiman belajar di Makkah dan tinggal di rumah pamannya Syaikh Abdurrahman Bugis. Di Mekkah tercatat KH. Junaid Sulaiman pernah belajar di Madrasah Shaulatiyah yang didirikan oleh Syaikh Syekh Rahmatullah Ibnu Khalil al-Hindi al-Dahlawi pada 1874.

Madrasah Shoulatiyah yang sampai saat ini masih kokoh berdiri di dekat Masjidil Haram ini juga menjadi kawah candradimuka ulama Nusantara lainnya seperti Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama) Tuan Guru KH. Zainuddin Abdul Majid (Pendiri Nahdlatul Wathan), KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyyah), Sayyid Muhsin al-Musawwa Palembang (Pendiri Madrasah Darul Ulum), Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani (Musnid Dunya) dan ulama besar lainnya.

Proses Berdirinya Pondok Pesantren Modern al-Junaidiyyah, Biru ini berawal dari pengajian kitab kuning yang diasuh oleh KH. Junaid Sulaiman di Masjid Raya Wantampone, Bone sementara itu kakaknya KH. Rafi’ Sulaiman membuka pengajian di Masjid Mujahidin yang tergolong pesantren tertua di Bone. Pengajian yang diasuh KH. Junaid Sulaiman berlangsung setiap selesai maghrib sampai Isya’, dan setelah subuh hingga pagi tiba. Selanjutnya murid-murid semakin bertambah hingga pada akhirnya pada tahun 1971 dipindah ke kompleks pesantren di Jalan Jendral Sudirman, Biru, Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Materi yang kami sampaikan dalam seminar ini adalah penjabaran dari catatan kami sebelumnya bertajuk Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji Muara Sanad Qiro’at Nusantara yang bisa disimak Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji, Muara Sanad Qiro’at Nusantara

Dari diskusi ini, kami juga menemukan jalur sanad yang sangat ditunggu oleh publik umat islam khususnya di Sulawesi Selatan, yakni Sanad Qiro’at Anregurutta As’ad bin Abdurrasyid. Adalah Ustadz Husein Husain NasMir, Pengajar di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Imam Ashim yang mengingatkan pada daftar guru-guru dari Gurutta As’ad yakni Syekh Umar Hamdan, Syekh Said Al Yamani, Syekh Hasan Al Yamani, Syekh Jamal Al Malikiy, Syekh Ahmad Nadhirim, Syekh Abbas Abdul Jabbar, Syekh Ambo Wellang, Syekh Mallawa, Syekh Abdur Rasyid (ayahnya sendiri) dan Syekh Sayyid Ahmad Syarif As-Sanusi.

Sejauh ini memang tidak ada dokumen tertulis yang mengungkap sanad ulama kelahiran Makkah al-Mukarramah, 12 Rabi’ul Awwal 1326 H/9 Maret 1907 ini. Namun dalam catatan M. Bunyamin Yusuf Surur, peneliti dari Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an, Kementerian Agama Republik Indonesia disebutkan bahwa Gurutta As’ad pernah belajar kepada seorang ulama Ahli Qiro’at dan Hadist, Syaikh Sayyid Ahmad asy-Syarief as-Sanusi (1873-1933). Disinyalir dari sosok guru yang juga mursyid Thariqah Sanusiyah inilah Sanad Qiro’at Gurutta As’ad bersambung.

Dalam Kitab Audhohu Dalalat di Asanidil Qiro’at karya DR. Yasir Ibrahim al-Mazru’i disebutkan bahwa Syaikh Sayyid Ahmad asy-Syarif as-Sanusi dilahirkan pada tahun 1284 H di Kota al-Jaghbub, Libya. Dalam bagan silsilah Asanidil Qur’an keluaran Kementerian Wakaf dan Urusan Keagamaan Kuwait disebutkan bahwa Sayyid Ahmad asy-Syarif belajar kepada Syaikh Ahmad ar-Rifi dan Syaikh Muhammad al-Mahdi. Keduanya adalah murid Syaikh Muhammad Ali As-Sanusi (1202 – 1276 H), Penulis Kitab al-Manhalu aI-Râwî al-Râ’iq fî al-Sânîd al-‘Ulûm wa Ushûli al-Tharîq.

Muhammad Ali As-Sanusi belajar kepada Syaikh Ahmad bin Abdurrahman at-Thabuli yang belajar kepada Syaikh Muhammad bin Abdussalam an-Nashiri, seorang Ahli Hadist (Lahir 1239 H) yang merupakan murid dari Syaikh Abdullah an-Nashir (Lahir 1187) dan Syaikh Yusuf an-Nashir, keduanya berguru kepada Syaikh Abu Samah Ahmad bin Ahmad al-Baqari (Wafat 1189) yang merupakan murid dari Syaikh Muhammad bin Umar bin Qasim bin Ismail al-Baqari (1018 H -1111 H).

Dari nama terakhir inilah sanad Anregurutta KH. Junaid Sulaiman Biru dan Anregurutta KH. As’ad bin Abdurrasyid Sengkang bertemu sampai kepada Rasulullah SAW. Keduanya adalah ulama yang bahu membahu dalam mensyiarkan agama Islam di Tanah Bugis. Sebagiamana diungkap oleh Prof. Dr. Abdul Kadir Ahmad, Guru Besar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat kami temui di kediamannya Sabtu, (3/10) silam menyebutkan bahwa Sanad Keilmuan Masyayikh Sulawesi Selatan tak bisa terlepas pada sosok gurutta As’ad yang menjadi guru utama dari Gurutta Hudzaifah saat belajar di Madrasah Arabiyah Islamiyyah, Sengkang, Wajo pada tahun 1951/1952. Setahun setelah itu guru mulianya berpulang ke Rahmatullah.

“Meski secara usia lebih tua Gurutta As’ad dari Gurutta KH. Junaid Sulaiman namun Gurutta As’ad begitu takdzim kepada kawannya tersebut kerena saat belajar di Madrasah Shaulatiyah, Gurutta As’ad duduk di tingkat tujuh, namun Gurutta KH. Junaid Sulaiman sudah mengajar di tingkat tersebut. Dalam sebuah pengajian jika kedapatan Gurutta KH. Junaid Sulaiman hadir dalam majelisnya, Gurutta As’ad tidak mau melanjutkan pengajiannya” ungkap Anregurutta KH. Jamaluddin Abdullah saat kami temui di kediamannya di kompleks Pondok Pesantren Modern Al-Junaidiyyah, Bone.

Jaringan Santri Gurutta As’ad tersebar luas di penjuru Sulawesi Selatan. Dalam buku setengah abad As’adiyyah, tercatat 160 alumni As’adiyyah yang terjun di berbagai bidang dari pendidikan, pemerintah, politik, dan lain-lain. Banyak pula murid-murid yang mendirikan pesantren di daerah masing-masing. Diantaranya: Anregurutta KH. Ambo Dalle, Dar al-Da’wah wal Irsyad (DDI) Mangkoso, Pare-Pare, KH. Daud Ismail Pesantren Yasrib Soppeng KH. Abdul Pabbaja, Pesantren Al-Furqon, Soppeng, KH. Abdul Mu’in Pesantren Urwatul Wusqa Rappang, KH. Lanresai, Pesantren Tujuh-Tujuh, Bone, KH. Hamzah Manguluang, Pesantren Babul Khaer, Bulukumba dan lain-lain

Terima Kasih kepada KH. Jamaluddin Abdullah, Dr. Muslihin Sultan Abdul Kadir dan segenap Keluarga Besar Pondok Pesantren Modern Al-Junaidiyyah, Bone yang telah memberi kesempatan kepada ini untuk berbagi pengalaman dalam menelusuri Jaringan Sanad Qiro’at Nusantara. Semoga hasil seminar pada kesempatan yang mulia kali ini bisa pelecut untuk terus bersemangat menelusuri sejarah Ahli Qiro’at Nusantara. Untuk kemudian dengan meneladani jejak langkah dan melanjutkan dakwah mereka dalam mensyiarkan kalam Illahi di bumi pertiwi yang kita cintai ini.

Bone, 5 Oktober 2020

Leave a reply